Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Desember 2021

Duka Dijaman Covid 19

Ini adalah kisah duka keluarga kami di awal bulan Agustus tahun 2001 sudah satu tahun lebih terhitung sejak pertama kalinya mulai teridentifikasinya virus Corona atau Covid 19 di kota Wuhan, China tahun 31 Desember 2019.

Dimana Hari itu aktifitas masyarakat kota Samarinda sudah mulai normal setelah lockdownnya seluruh kota di Indonesia dan seluruh negara di dunia, dimana pemerintah daerah waktu itu diberi wewenang dan tanggung jawab darurat untuk menginisiasi PSBB disetiap kota dan dimana akhirnya setelah itu pemerintah memberlakukan kesekian kalinya PPKM Jilid ke 2 ke seluruh daerah dan kota atas perintah pemerintah pusat sepenuhnya. 

Dimana PPKM Jilid ke 2 ini perekonomian masyarakat Samarinda sudah mulai membaik, vaksin Covid 19 sudah ditemukan. Orang-orang berbondong-bondong meminta untuk diberi vaksin gratis dari pemerintah, saat itu masyarakat kota Samarinda sudah banyak bertebaran dimana- mana, Toko-toko, pasar-pasar, ojek online dan pusat perbelanjaan dan aktifitas masyarakat lainnya sudah mulai diperlonggar aturannya hanya saja sekolah-sekolah belum buka.

Disini lah wabah itu datang di keluarga kami. Hari itu ya, mungkin boleh dikatakan bulan itu seingat saya adalah bulan yang kering alias bulan yang bulum diturunin hujan. Fajar ( adik ipar) seorang ojek online dia melakukan pekerjaan paruh waktu hanya sekedar mengisi kekosongan, sedangkan istrinya (adik kandung) mereka berdua mempunyai business Owner "SOP Durian F & O"  

Di tengah hari yang panas, lalu lalang kendaraan lumayan ramai padat merayap tapi antrean lampu merah tak begitu panjang. Sebagaimana mestinya keramaian di pusat/tengah kota disaat jam padat lalu lintas. Didalam kedaiku (Pedas Mampus Samarinda) aku sedang duduk santai melihat ke arah luar memandang kendaraan lalu lalang, Saat santai sembari icip-icip minum air putih tiba-tiba datang seorang pengendara motor memakai jaket Gojek markir kendaraannya, aku kira ada orderan masuk. Eh, ternyata Fajar yang datang.

Aku perhatikan dari kejauhan sepertinya iya kurang sehat, mata tidak putih seperti biasa badannya terlihat lesu dan kusam ia bergegas naik tangga loteng tepat disamping teras Kedai menuju ke kamarnya.

Keesokan harinya, pada dini hari terdengar suara sayup-sayup Kalamullah ( pengajian dari rekaman kaset sebelum adzan berkumandang ) kepala dan mataku begitu berat untuk terjaga, "kalau tidak dipaksakan untuk bangun aku pasti kesiangan lagi " dan adzan Shubuh berkumandang. "Ah, sebentar dulu deh abis adzan selesai aja deh bangun lagi" Al hasil waktu menunjukan jam  05.30 aku paksakan diriku untuk bangun untuk shalat.

Pagi Hari terlihat nyaman, nyaman dihati, diteras loteng rumah aku pandangi langit, langit dipenuhi oleh awan, Sepertinya sepanjang hari ini akan rindang bagaikan rindangnya ketika berteduh dibawah pohon rindang. 

Dengan setelan baju olah raga dengan sepasang sepatu aku langkahkan kakiku ke anak tangga menuju kebawah.

Diteras bawah masih terlihat gelap hanya diterangi satu lampu Philip 5 Watt  seumuran anak balita, cahayanya sudah agak temaram, lampu ini memang khusus dinyalakan ketika warung sudah tutup. abah (Bokap) baru saja selesai menyusun peralatan dapur dan kursi di teras warung. Tanpa ada obrolan pagi dan kata-kata yang berarti, saya pendiam Abah juga pendiam memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Eit, tunggu dulu. Produk kedua biasanya lebih canggih dari produk pertama karena ada gen mama (Nyokap) didalam diriku, bukan hanya sekedar diam tapi juga banyak potensi kali yeeeah. 

Habit ini sudah mengotomatiskan saya jam 06:30 setelah sarapan untuk olah raga jalan-jalan pagi, olah raga paling sehat itu adalah jalan kaki, jalannya santai aja gak usah terburu-buru, slow tanpa resiko cidera dan tanpa perut sakit terguncang-guncang ketika olah raga lari setelah sarapan.

Oke kita lanjut. Kadang satu jam kadang Satu jam setengah aku selesai olah raga itu berarti kurang lebih satu jam setengah aku habiskan waktu jalan pagi. Kalau saya ambil dari Jl. H. Agus Salim menuju Jl. Kesuma bangsa terus lewat bayangkara terus Jl.Awang Long dan terus ke Jl. Gajah Mada ke Jl. Yos Sudarso belok menuju Citra Niaga lurus ke Jl. Pulau sebatik lurus lagi ke Jl. Imam Bonjol dan terus ke Jl.Ahmad Dahlan lalu sebrangi jembatan ketemu Jl. Lambung Mangkurat belok kiri ke Gg. Mesjid terus lagi sampai ke Jl. Gatot Subroto lurus ketemu dan seberangi JembatanBaru dan jalan sedikit ketemu Jl. H. Agus Salim dan sampai lah kerumah. Waktu memakan satu jam lebih sedikit sama dengan lebih dari 6000 langkah 
Ini adalah rute favorit saya, itu dulu tapi sekarang tidak lagi, ada rute favorit yang lain.

Oke nanti aja kita membahas masalah olah raga, nanti di tulisan saya di beberapa kesempatan berikutnya. Kalau diteruskan melenceng dari topik.

Embusan angin menghantarkan hangatnya matahari sudah mulai terasa sayup-sayup menyapa kulit. sepertinya perkiraan cuacaku tidak begitu tepat, hari ini terlihat cerah dan panas. Dari kejauhan tepat dipertigaan Jl.Kesuma Bangsa didekat pos Polisi aku lihat Abah sedang duduk merokok dan menikmati segelas kopi luwak. Abah memang biasa pagi-pagi setelah membuka warung duduk santai didepan teras warung.

Saat menulis tulisan ini rasa hati pilu terkenang Abah di kisah sedih pada masa lalu ini. Tak tahan rasa ingin melanjutkan tulisan ini tapi besar tekad ingin menyelesaikan kisah ini sampai akhir, sekiranya saya istirahatkan dulu hati dulu dan tunggu sambungan kisah ini ke tulisan saya berikutnya dan sampai jumpa  di jurnal saya berikutnya.

 Bersambung..




Minggu, 03 Mei 2020

Segelintir cerita dari covid-19

Tak pernah aku rasakan dan juga terbayangkan warung tempat usahaku sesepi ini sejak masuknya virus corona di Indonesia. Virus ini sudah menjadi epidemik yang penyebarannya udah termasuk 15 kasus per 100.000 orang selama dua Minggu berturut-turut Awalnya biasa saja lama kelamaan makin parah. Alhasil semua karyawan saya rumahkan.

Sendiri dan sepi hari-hari kulalui tanpa kalian disini, "pelangganku kemana kau?" "Sakitku menantimu disini, kembalilah kau kemarilah aku menunggumu."  Dadadadudududada..

Siang dan malam seperti kota mati, terbesit diingatan, ini bagaikan kota zombie seperti di film-film horor, biasa pedagang kaki lima berjualan di pinggir jalan meramaikan pinggiran dan sudut-sudut jalan dan kini suasan begitu lengang bagaikan kota tak berpenghuni. Siang seperti tengah malam bahkan lebih sepi dari pada itu. Suasana yang aku alami sekali yang pernah terjadi dalam sepanjang hidupku.

Jaman luar biasa. Ini jaman sakit, sakitnya luar dan dalam semacam penyakit orang yang tua renta mengidap penyakit komplikasi akut ditambah isu covid-19, sakitnya luar biasa seperti anak yang pertama kali merasakan sakit gigi . konon katanya ini adalah krisis dunia terbesar setelah perang dunia ke 2. bukan hanya sekedar konon atau informasi yg berhembus tak tau arah yang asal usulnya tak jelas, ini memang informasi dari pakar ekonom tentu saja dengan data-data yang valid. 

Social, ekonomic, goverment dll terkena dampak imbasnya. Sekarang negara terkuat dan adidaya sekalipun pun tumbang tak berdaya, Negara Amerika kini adalah negara episentrum Pandemik Covid-19 setelah cina dan italia dengan jumlah kisaran hampir mencapai 150 ribu kasus dan 3000 kasus kehilangan nyawa akibat covid-19. Cina dan italia hanya kisaran 80.000 lebih kasus positif diatas cina.

Presiden Donal trump tampil disebuah acara tv berita kepada publik sebelum Pandemik Corona menyebar luas keseluruh dunia ia mengatakan bahwa ini adalah akal akalan pemerintah Cina agar dapat mengambil simpati dunia ia menuding cina membuat skenario corona. 

Tak lama sebelum kasus Corona di Wuhan Cina, Amerika udah banyak menarik saham menyisakan 20 % di negeri tirai bambu ini dan memindahkan anak perusahaan besar Amerika ke Taiwan seperti perusahaan Apple, Microsoft,  Del, DLL. Perang dagang inilah yang menjadikan Amerika awalnya mengira cina hanya berakting membuat skenario virus Corona ini untuk mengambil simpati dunia.

Kita beralih ke India kemarin sebelum sebelum Covid-19 merebak keseluruh dunia yang masih berawal dari kota Wuhan China. India muncul berita bahwa ada gesekan isu internal masalah politik dan agama antara  Islam dan Hindu sekira ada 10 orang dari umat Islam di India menjadi korban kekerasan dari extreamis Hindu India, ini extreamis Hindu ini diduga mendapat dukungan dari pemerintah India hingga umat Islam India mendapatkan deskriminasi.

Hingga muncul covid- 19 dinegeri ini. dan lockdown secara menyeluruh hingga logistik terbatas Menjadikan kondisi menjadi rumit. menurut "pakar" bahwa rakyat India di negeri ini bukan orang-orang mati akibat Covid- 19 tapi masyarakatnya mati akibat kelaparan. 

Saya berkesimpulan permasalahan di india ini mungkin udah ada campur tangan politik dalam pandemi Corona ini.

Cukup sekian dan terima kasih.