Tak terasa aku terbangun dari tidurku yang aku kira waktu menunjukan kurang jam 12.00 siang ternyata waktu sudah menunjukan jam 01.30. Mata ini masih terasa ngantuk dan aku menlanjutkan tidurku sebentar hingga akhirnya aku paksakan untuk bangun segera dan melakukan aktivitas sehari-hari. Hari ini tidak begitu panas cuaca hari ini sangat rindang serindang berteduh di bawah pohon di hari panas. Awan hari ini tidak menggumpal terpisah-pisah tetapi awan seolah memecah dirinya seperti sampah yang berserakan hampir menutupi seluruh lantai. Ibaratkan iangit adalah lantainya dan awan adalah sampahnya. Aku suka sekali dengan cuaca sperti ini, cuaca yang menadi vaforitku, tak begitu panas dan tak begitu lembab dan aku tak begitu suka dengan cuaca sehabis hujan yang terasa begitu basah dan lembab. Tapi tunggu dulu sebenarnya aku suka hujan, hujan lebat atau grimis tapi aku tak suka jika itu semua berakhir yang menyisakan basah dan lembab, maklum sehabis hujan membuat kerjaan bagiku membersihkan lantai yang basah dikarenakan atap yang bocor yang menyisakah basah dan becek. Itulah alasanku tidak menyukai setelah hujan berhenti.
Semalam aku tidur jam 05.00 pada pagi hari, tidak dikatakan semalam tetapi pagi hari aku melangkah tidur. hingga ku terbangun siang seperti ini. Menurut ilmu kesehatan bahwasanya manusia itu tidur cukup adalah 8 jam sehari, aku mulai tidur pada jam 05.00 pagi dan terbangun jam 1.30 siang itu berarti aku tertidur 8 jam 30 menit itu berarti aku mencuri waktu 30 menit, itu berarti aku bersiap-siap untuk bergadang-gadang ria kembali dan harus memaksakan tidur di malam hari dengan mata yang masih segar bugar, jika itu tidak berhasil mau tidak aku aku harus menerima tidurku di pagi hari kembali.
Diri kita bagaikan dua kpribadian yang selalu menuju kepada kejahataan dan sisi lain ia menuntut kebaikan pada dirinya sendiri. Apabila bertentangan dengan kehendak yang baik ia akan gelisah dan menjadi beban fikiran yang sangat sulit kita kendalikan. Ibaratkan ketika kita tak bisa tidur pada malam hari yang seharusnya waktu itu kita harus mengistirahatkan tubuh.
Begitu juga dengan pikiran yang melayang-layang tak tentu arah kemana yang begitu sulit di arahkan atau dikendalikan. Sebenarnya kita berfikir tidak selamanya berkutat pada sesuatu hal yang tak berwujud dan abstrak yang sangat sulit di kendalikan. Itu tergantung kita pada pemikiran kita sendiri untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang berwujud menjadikan pikiran tampak berwujud dan nyata dan dapat dikendalikan, seperti kita mengendalikan diri pada saat melawan hawa nafsu seperti menahan haus dan lapar, sperti mengendalikan amarah ketika kita ingin marah, seperti menahan pandangan melihat hal-hal yang tidak baik yang mengotori pikiran dan jiwa kita.
Ketika kita mengatur waktu, berpuasa dan apapun yang menjadikan diri kita menahan sesuatu, melakukan sesuatu hal yang mana seharusnya yang harus dilakukan dan apa-apa yang seharusnya tidak kita lakukan, mengutamakan kewajiban dari pada kebutuhan yang tidak penting itulah secara tidak langsung kita belajar mengendalikan pikiran yang tak berwujud dan abstrak menjadi pikiran yang berwujud dan dapat dikendalikan dan kita perintah sendiri kapan kita dapat mengosongkan pikiran dan kapan waktunya harus berpikir yang dulunya pikiran yang melayang-layang tak tentu arah akan dapat dikendalikan.
Selasa, 10 Juni 2014
Senin, 09 Juni 2014
Pikiran Kosong
.
Diluar
kamar masih ramai terdengar keluarga yang masih bersunda gurau, malam ini
10 Juni 2014 menunjukan jam 12.09 malam, aku di kamar sendiri sambil
mengetik keyboard di laptopku untuk mengisi blogku yang masih kosong,
ini tulisan perdanaku di blog ini. Sebenarnya bukan ini saja blogku,
masih banyak blogku yang lain tapi ini adalah blog aku khusus untuk
menceritakan kisah keseharianku sehari-hari yang 3-penting saja.
Mungkin Sangat sayang bagi kita apa yang kita lalui terbuang begitu saja tanpa catatan, karena apa yang kita lalui itu semua akan berlalu dan akan menjadi sejarah yang tak akan kita dapatkan lagi kedepannya.
Mungkin Sangat sayang bagi kita apa yang kita lalui terbuang begitu saja tanpa catatan, karena apa yang kita lalui itu semua akan berlalu dan akan menjadi sejarah yang tak akan kita dapatkan lagi kedepannya.
Sebenarnya
alasanku yang utama mencatat hari-hariku di blog ini sebagai
media mengenang masa lalu yang mungkin saja bisa terlupakan.
Dengan media blog ini kenangan yang mungkin saja terlupakan akan
teringat kembali sebagai ingatan tertulis yang bisa di buka kembali di
masa yang akan datang yang mungkin terlupakan.
Teringat dengan Semboyan terkenal yang diucapkan Bung Karno yaitu JASMERAH "Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah", Adalah benar adanya hari ini dan esok dipengaruhi masa lalu, dengan belajar dari sejarah kita bisa belajar dari masa lalu dan memperbaikinya dimasa kini dengan rencana dan mewarnai masa depan sesuai dengan kehendak dan selera kita. Tentu saja tidak terlalu berekspektasi tinggi karena kehidupan tidak sepenuhnya selalu sesuai dengan apa yang kita kira dan inginkan dengan berikir seperti ini mencegah kita berharap pada sesuatu yang diluar kendali kita yang membuat kita jatuh pada ketudak nyamanan dan rasa sakit.
Karena setiap langkah dan tindakan itu ada hikmah yang kita petik untuk pembelajaran kehidupan kita selanjutnya.
Hidup ini hanya sekali, Apa artinya diri ini yang secara personal hidup di dunia ini di lupakan begitu saja, ibaratkan terlahir sebagai binatang, hidup, mencari makan, beranak dan mati. Lahir dan mati tak melakukan hal yang berguna.
Hidup ini selalu berubah-ubah bagaikan hari demi hari di lalui dengan panas dan hujan. sebagaimana diri kita sendiri, kadang senang, kadang susah. Inilah hidup, tergantung kita bagaimana menyikapi hidup ini.
Teringat dengan Semboyan terkenal yang diucapkan Bung Karno yaitu JASMERAH "Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah", Adalah benar adanya hari ini dan esok dipengaruhi masa lalu, dengan belajar dari sejarah kita bisa belajar dari masa lalu dan memperbaikinya dimasa kini dengan rencana dan mewarnai masa depan sesuai dengan kehendak dan selera kita. Tentu saja tidak terlalu berekspektasi tinggi karena kehidupan tidak sepenuhnya selalu sesuai dengan apa yang kita kira dan inginkan dengan berikir seperti ini mencegah kita berharap pada sesuatu yang diluar kendali kita yang membuat kita jatuh pada ketudak nyamanan dan rasa sakit.
Karena setiap langkah dan tindakan itu ada hikmah yang kita petik untuk pembelajaran kehidupan kita selanjutnya.
Hidup ini hanya sekali, Apa artinya diri ini yang secara personal hidup di dunia ini di lupakan begitu saja, ibaratkan terlahir sebagai binatang, hidup, mencari makan, beranak dan mati. Lahir dan mati tak melakukan hal yang berguna.
Hidup ini selalu berubah-ubah bagaikan hari demi hari di lalui dengan panas dan hujan. sebagaimana diri kita sendiri, kadang senang, kadang susah. Inilah hidup, tergantung kita bagaimana menyikapi hidup ini.
Hidup itu seperti emosi datang dan pergi, seperti langit yang terang nan cerah yang dilalui kabut awan cerah dan awan mendung yang lewat, kadang sedih dan kadang bahagia.
Esensinya kita ini adalah langit bersih yang lapang, luas tenang, tak berwarna dan tak terbatas dan tak lekang oleh waktu dan tak pernah rusak oleh apapun.
Kita adalah langit yang sering diilalui oleh cuaca yang melintas, awan putih, awan mendung, hujan dan badai yang pada akhirnya ia akan berlalu dan kembali langit yang cerah. Tapi tunggu dulu, kita jangan berharap langit akan selalu cerrah terus kita mesti ingat langit cerah itu akan kembali mendung lalu hujan dan bisa saja di landa badai kembali, tugas kita hanyalah mengmati dan jangan tenggelam.
Amati langit yang cerah, "oh, sekarang langit sedang cerah muncul rasa senang dan bahagia tapi meski ini hal positif jangan tenggelam dalam hal ini, ia bisa menimbulkan rasa euforia hati--hati ini jika dibiarkan atau tenggelam kita bis terlena bisa menimbulkan sisi negatif dan menenggelamkan dan menghilangkan kesadaran atau lupa diri, hati2 ego bermain disini, tenang saja untuk menghadapinya cukup diamati dan dirasakan.
Maju kena, diam kena dan mundurpun kena, inilah yang kita sebagai individu hadapi. Ungkapan maju kena, mundur kena diampun kena ini secara filosofis menggambarkan situasi dilema absolut yaitu situasi serba salah yang kita hadapi.
Ungkapan maju kena, mundur kena, dan diam pun kena secara tekstual teks ini menyisakan kesan negatif, tetapi kalau dilihat dari konteksnya, secara filosofis bukanlah menggambarkan hal yang buruk, melainkan merefleksikan kondisi mendalam tentang kebebasan, tanggung jawab, dan realitas kehidupan manusia.
Ketika seseorang individu memilih untuk maju, ia akan dihadapkan kepada tanggung jawab, beban, dan berpotensi kehilangan hak kebebasannya, setiap tindakan nyata akan membawa ketidak pastian, resiko, dan ketidak pastian yang tidak sepenuhnya bisa dikontrol.
Jika kita memutuskan untuk mundur ( menyerah, lari dari masalah, atau kembali pada masa lalu ) ia berharap menemukan rasa aman dibalik itu semua, tetapi justru ini akan memperparah keadaan yang memang pada awalnya tak baik menjadi sesuatu yang lebih buruk. Sikap ini memperparah keadaan, ada potensi kehilangan kesempatan yang datang, dan penurunan kualitas diri untuk bertumbuh. "mundur kena" menunjukan kalau lari dari kenyataan tidak menghilangkan masalah, melainlan merubah bentuk menjadi penderitaan di masa depan.
Ketika individu memilih untuk diam (pasif, tidak mengabil keputusan atau berharap waktu yang berbicara atau waktu yang menyelesaikannya) ia sebenarnya sedang melakukan tindakan untuk tidak nemilih, dan tindakan untuk tidak memilih, inipun adalah sebuah pilihan, dan tidak memilih tetaplah sebuah pilihan. Diampun menyadarkan kita jika tak bergerak keluar dari kepasifan kita akan tergilas oleh buldoser waktu, kehilangan kontrol atas dirinya dan membiarkan orang lain atau sitiasi menentukan tadirnya.
Penerimaan atas penderitaan yang tak terhindarkan. Menyadari bahwa kehidupan penderitaan adalah bagian dari hidup,, hidup pada dasarnya penuh resiko dan ketidak pastian, tidak ada pilihan yang aman 100 persen terbebas dari rasa sakit.
Keberanian memilih penderitaan. Karena semua pilihan ada harganya, kunci utamanya adalah bukan menghindari resiko dan rasa sakit, tetapi dapat memilih resiko yang mana yang siap kita pertanggungjawabkan. Pendderitaan karena maju lebih bermakna daripada diam dan membusuk dari dalam dan hancur lebur tak utuh.
Kedaulatan diri. Jika kita menyadari diam kena dan mundurpun jugs kena, kita dipaksa untuk keluar menjadi korban dalam keadaan serba salah. Jika pada akhirnya tetap saja menanggung konsekuensi, maka melangkah maju secara sadar adalah satu-satunya pilihan yang menyisakan bermartabat dan ruang untuk bertumbuh.
Langganan:
Postingan (Atom)