Selasa, 10 Juni 2014

Kendalikan Diri

Tak terasa aku terbangun dari tidurku yang aku kira waktu menunjukan kurang jam 12.00 siang ternyata waktu sudah menunjukan jam 01.30. Mata ini masih terasa ngantuk dan aku menlanjutkan tidurku sebentar hingga akhirnya aku paksakan untuk bangun segera dan melakukan aktivitas sehari-hari. Hari ini tidak begitu panas cuaca hari ini sangat rindang serindang berteduh di bawah pohon di hari panas. Awan hari ini tidak menggumpal terpisah-pisah tetapi awan seolah memecah dirinya seperti sampah yang berserakan hampir menutupi seluruh lantai. Ibaratkan iangit adalah lantainya dan awan adalah sampahnya. Aku suka sekali dengan cuaca sperti ini, cuaca yang menadi vaforitku, tak begitu panas dan tak begitu lembab dan aku tak begitu suka dengan cuaca sehabis hujan yang terasa begitu basah dan lembab. Tapi tunggu dulu sebenarnya aku suka hujan, hujan lebat atau grimis tapi aku tak suka jika itu semua berakhir yang menyisakan basah dan lembab, maklum sehabis hujan membuat kerjaan bagiku membersihkan lantai yang basah dikarenakan atap yang bocor yang menyisakah basah dan becek. Itulah alasanku tidak menyukai setelah hujan berhenti.

Semalam aku tidur jam 05.00 pada pagi hari, tidak dikatakan semalam tetapi pagi hari aku melangkah tidur. hingga ku terbangun siang seperti ini. Menurut  ilmu kesehatan bahwasanya manusia itu tidur cukup adalah 8 jam sehari, aku mulai tidur pada jam 05.00 pagi dan terbangun jam 1.30 siang itu berarti aku tertidur 8 jam 30 menit itu berarti aku mencuri waktu 30 menit, itu berarti aku bersiap-siap untuk bergadang-gadang ria kembali dan harus memaksakan tidur di malam hari dengan mata yang masih segar bugar, jika itu tidak berhasil mau tidak aku aku harus menerima tidurku di pagi hari kembali.

Diri kita bagaikan dua kpribadian yang selalu menuju kepada kejahataan dan sisi lain ia menuntut kebaikan pada dirinya sendiri. Apabila bertentangan dengan kehendak yang baik ia akan gelisah dan menjadi beban fikiran yang sangat sulit kita kendalikan. Ibaratkan ketika kita tak bisa tidur pada malam hari yang seharusnya waktu itu kita harus mengistirahatkan tubuh.

Begitu juga dengan pikiran yang melayang-layang tak tentu arah kemana yang begitu sulit di arahkan atau dikendalikan. Sebenarnya kita berfikir tidak selamanya berkutat pada sesuatu hal yang tak berwujud dan abstrak yang sangat sulit di kendalikan. Itu tergantung kita pada pemikiran kita sendiri untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang berwujud menjadikan pikiran tampak berwujud dan nyata dan dapat dikendalikan, seperti kita mengendalikan diri pada saat melawan hawa nafsu seperti menahan haus dan lapar, sperti mengendalikan amarah ketika kita ingin marah, seperti menahan pandangan melihat hal-hal yang tidak baik yang mengotori pikiran dan jiwa kita.

 Ketika kita mengatur waktu, berpuasa dan apapun yang menjadikan diri kita menahan sesuatu, melakukan sesuatu hal yang mana seharusnya yang harus dilakukan dan apa-apa yang seharusnya tidak kita lakukan, mengutamakan kewajiban dari pada kebutuhan yang tidak penting itulah secara tidak langsung kita belajar mengendalikan pikiran yang tak berwujud dan abstrak menjadi pikiran yang berwujud dan dapat dikendalikan dan kita perintah sendiri kapan kita dapat mengosongkan pikiran dan kapan waktunya harus berpikir yang dulunya pikiran yang melayang-layang tak tentu arah akan dapat dikendalikan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar